
Kretek (SakreNews). Sebagai sekolah berbasis budaya, SMA 1 Kretek berupaya melestarikan budaya yang dimiliki. Salah satu budaya tersebut berupa batik yang merupakan salah satu budaya tinggalan nenek moyang. Batik mengalami perkembangan yang dulunya dilukis lewat canthing, kini tinggal celup. Dari batik itu bisa dibuat beraneka ragam kegunaan, tak hanya melulu baju. Harapannya, warga sekolah bisa memanfaatkan batik menjadi hal berguna.
Itulah salah satu tujuan diselenggarakannya Workshop Batik Shibori di Sakreta pada Senin (14/9).
Pak W, kepala sekolah Sakreta, mengaku baru pertama kali mengenal batik Shibori.
“Saya baru pertama kali tahu tentang batik Shibori. Nanti kita akan buat sama-sama. Semoga hasilnya bagus,”ujarnya saat memberi kata sambutan.
Sementara Bu Yuni, narasumber batik Shibori, mengaku senang bisa menularkan ilmunya.
“Tidak ada yang salah dalam seni. Baik dan buruk juga relatif. Jadi jangan langsung kecewa atau patah hati kalau nanti hasilnya dirasa jelek. Kita dari industri kreatif, sesuatu yang kita kerjakan tidak bisa 100% seperti kemauan kita,”tuturnya.
Yuni mengaku butuh berapa kali trial dan eror.
“Tidak Cuma sekali dua kali kami melakukan trial dan eror. Kami harus berkali-kali mencari formula yang pas. Perlu perpaduan antara kain yang baik dan pewarna yang baik, “anjutnya.
Pada workshop kali ini, semua bapak dan ibu guru serta karyawan turut serta. Masing-masing peserta mendapat satu kain lalu dilipat sesuai contoh.
Setelah selesai, dicelup di dalam pewarna.
“Semoga calon taplak mejaku ini nanti berhasil,”harap Nora.
Workshop diakhiri dengan foto bersama dengan hasil karya taplak meja masing-masing. (*Fitk)
