Kretek (SakreNews). Pelaksanaan MPLS di SMAN Kretek sudah memasuki hari ketiga pada Rabu (17/7). Tepat pukul 07.00 WIB, apel dimulai untuk menandai kegiatan MPLS hari ketiga. Pembina apel kali ini oleh Tutut Handayani, S.Pd.
Apel selesai, peserta didik memasuki kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan MPLS yang sudah terjadwal di hari Rabu. Untuk kelas X, kegiatan pertama yang dilakukan yakni pelaksanaan psikotest. Lembaga psikogi yang didatangkan kali ini dari lembaga dari Bina Asih. Terlihat peserta mengikuti psikotest dengan tertib. Psikotest kali ini berlangsung selama dua jam.

Untuk kelas XI, salah satu kegiatan berupa sosialisasi anti kekerasan seksual dari lembaga Rifka Annisa. Lembaga Rifka Annisa yang berdiri sejak 1993 memaparkan pentingnya pendidikan anti kekerasan seksual untuk peserta didik. Beberapa yang termasuk kekerasan seksual yang biasa terjadi di kalangan pelajar misalnya penyebaran gambar atau foto yang kurang senonoh. Peserta didik perlu dibekali bagaimana bereaksi terhadap hal tersebut jika ada teman yang mengalami.
Untuk kelas XII, salah satu kegiatan diisi oleh Nursan Prangbakat, S.Pd. dan Norawati, S.Pd. dengan materi kelanjutan studi yang disampaikan di aula.
“Setelah lulus SMA, kemana kalian akan melanjutkan? Pilihannya kuliah, bekerja, lembaga kursus atau menikah? Tidak ada larangan atas pilihan kalian tapi kalian harus bisa memikirkan konsekwensi masing-masing dari pilihan kalian itu. Tapi karena kalian dari jenjang SMA, harapannya ya melanjutkan kuliah,” ujar Nursan. Nursan melanjutkan bahwa setiap orang punya potensi masing-masing, maka untuk pemilihan kuliah bisa didasarkan pada hal itu. “Tipsnya kenali bakat dan minat mu melalui prestasi, cari jurusan sesuai kepribadian dan kenali problem lain yang mungkin kamu hadapi,” lanjut Nursan.
Pemateri kedua, Norawati, S.Pd., memaparkan tentang jalur masuk untuk SNBT dan SNBT serta mandiri.
“Ada yang punya prestasi dan punya sertifikat? Kalau ada, nanti bisa digunakan untuk menambah nilai prestasi,” terang Nora.
“Untuk jalur SNBT, besok tidak boleh lintas jurusan. MIPA tidak boleh ambil IPS dan sebaliknya. Misal anak IPS mau ambil arsitektur, tudak bisa, karena lintas jurusan. Berbeda dengan jalur SNBP. Untuk SNBP anak-anak bebas memilih jurusan, jadi boleh lintas jurusan, yang penting belajar agar diterima di kampus yang diinginkan,” tambahnya.
Nora menambahkan masih ada jalur mandiri jika siswa tidak diterima jalur SNBP dan SNBT.

“Untuk jalur terakhir ada jalur mandiri. Untuk jalur ini aturan yang harus dipenuhi siswa lebih fleksibel, tergantung kampus yang dituju masing-masing. Terkait biaya, nanti ditentukan oleh penghasilan orang tua masing-masing. Jadi tidak usah khawatir kalau biaya pendidikan di kampus mahal,” tandas Nora. *Fkv
