Kretek (SakreNews). Validasi eksternal KSP (Kurikulum Satuan Pendidikan) dilaksanakan SMA Kretek pada Jumat, 11 Juli 2025. Setelah seminggu sebelumnya dilaksanakan validasi internal. Acara dihadiri oleh Kepala Balai Dikmen Bantul, Ismunardi, M.M., Pengawas SMA 1 Kretek Tukino, M.Pd. dan Kepala Komite Sekolah, H. Bambang Sutarto.
Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjut dengan sambutan Kepala Sekolah.
“Panduan kurikulum belum terbit, jadi dokumen kurikulum jangan dijilid dulu karena belum final,” terang Kepala Sekolah dalam sambutannya.
Nanang Budi, staff waka kurikulum, lalu menyampaikan draff kurikulum SMA Kretek dihadapan kepala Balai Dikmen dan civitas akademia SMA 1 Kretek.
Nanang menyampaikan ada 5 bab dalam panduan penyusunan kurikulum dari Dikpora. Tiga diantaranya yakni analisis karakteristik, visi misi, dan pengorganisasian pembelajaran.
“Sebagian besar siswa SMA Kretek menengah ke bawah dan lingkungan masyarakat desa,” papar Nanang dalam penyampaian kondisi nyata peserta didik.
Sedangkan untuk hasil ujian, menurut Nanang rata-rata hasil ujian mengalami peningkatan baik di bidang IPA atau pun IPS. Untuk tracer study jumlah yang diterima meningkat dari tahun sebelumnya dengan rincian yang diterima di PTN sebanyak 14 siswa, PTS sejumlah 9 siswa dan 111 siswa masih menunggu untuk hasilnya.
Nanang juga memaparkan kondisi nyata hasil rapor pendidikan. Menurutnya, baik dari kemampuan literasi, numerasi, karakter, iklim keamanan sekolah mengalami kenaikan di tahun 2025.
“Untuk Visi dan Misi sekolah tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan kami merasa Visi dan Misi sekolah saat ini masih relevan untuk dipakai sampai saat ini,” ujarnya.

“Terkait pilihan mapel masih menunggu juknis. Apakah masih paket atau kelas MIPA, IPS atau Bahasa. Untuk saat ini berdasar paket pilihan mapel yang disesuaikan dengan ketersediaan Bapak dan Ibu guru pengajar di SMA Kretek. Untuk kelas pemilihan mapel saat ini sudah terbentuk. Ada 4 kelas,”tandas Nanang.
Nanang menambahkan, ada 3 budaya sekolah yang dijadikan kurikulum yakni budaya Berprestasi, budaya Literasi, dan pendidikan Khas Kejogjaan. Literasi dilaksanakan setiap Selasa, Rabu dan Kamis. Budaya sekolah yang lain salah satunya yakni penerapan 7 kebiasaan anak Indonesia Hebat yang terintegrasi dalam kurikulum.
Terakhir, Nanang meyampaikan kalender pendidikan yang juga belum final karena belum ada juknis yang ada. Nanang mendasarkan kalender pendidikan yang dibuat dari Jawa Tengah.
“Jika nanti ada panduan resmi terbit, kami siap untuk merevisi sesuai juknis yang dibuat dinas Dikpora atau Kemendikbud. Demikian yang dapat saya sampaikan,”tutup Nanang.
Ismunardi, kepala balai dikmen mengaku bangga dan mendukung atas kurikulum yang telah disampaikan.
“Kami apresiasi karena Sakreta berhasil menyusun kurikulum ini. Ini kerja tim yang baik,” puji Ismu.
“Meski begitu harus kami memberikan masukan. Misalnya tadi masih ada penyebutan Naban, saat ini semua menjadi P3K. Selainnya sudah bagus dan bisa dilaksanakan dengan menunggu juknis terbaru,” tandasnya. (*Fitk)

