Kretek (SakreNews). Berakhirnya masa jabatan OSIS Sakreta periode 2024/2025 ditandai dengan penyerahan bendera Merah Putih dan Bendera OSIS dari ketua OSIS dan Wakil OSIS terdahulu, Puspita Nafa-Ditya Yuri, kepada OSIS Ketua dan Wakil yang baru, Muhammad Iksan-Adnan.
Penyerahan tersebut dilangsungkan selepas upacara memperingati hari Sumpah Pemuda yang dilangsungkan di lapangan upacara Sakreta pada Senin (28/10).
Kepala Sekolah dalam sambutannya menyatakan, bahwa Ketua OSIS beserta seluruh OSIS yang terpilih harus menjadi teladan.

“Kalian semua harus menjadi contoh yang baik untuk siswa yang lain. Berperilaku yang baik dalam mentaati tata tertib sekolah, dalam berperilaku seperti memberi contoh sopan dan santun kepada guru dan sesama siswa,”tekannya seusai membacakan SK Pengangkatan OSIS Baru Periode 2025/2026.
Kepala Sekolah juga menekankan bahwa salah satu tugas utama OSIS untuk membantu kegiatan sekolah.
“Setiap ada kegiatan sekolah, OSIS harus berperan untuk membantu. Seperti kegiatan Ulang tahun, wisuda dan lainnya,” tasdasnya.
Pelantikan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan apel peringatan sumpah pemuda. Dalam amanat, Kepala Sekolah membacakan amanat dari Gubernur DIY. Berikut kutipan amanat yang dibacakan saat amanat.

Amanat peringatan hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Saudara-saudara sekalian, khususnya generasi muda penerus bangsa yang saya banggakan, Pada hari ini, kita kembali memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-97. Sejarah telah mencatat, bagaimana para pemuda pada tahun 1928, dengan penuh kesadaran dan keberanian, menyatukan visi kebangsaan melalui ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia. Mereka tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi membuktikannya dengan tindakan nyata, perlawanan, dan pengorbanan. Semangat itulah, yang kini harus kita hidupkan kembali, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. 1 Saudara-saudara sekalian, TEMA peringatan tahun ini, “Pemuda Pemudi Bergerak, Indonesia Bersatu”, bukan sekadar seruan, melainkan sebuah falsafah gerak kolektif. Semangatini, mengajak kita untuk melampuai batasan, merajut kolaborasi dalam ekosistem inovasi, dan menciptakan sinergi lintas-sektor yang organik. Di sini, pemuda bukan hanya pelopor, melainkan arsitek perubahan, katalisator ekonomi, dan sekaligus kurator persatuan. Namun, di tengah gelombang disrupsi digital, kita berhadapan dengan paradoks ruang maya: tempat yang menjanjikan keterhubungan, namun justru rentan memproduksi fragmentasi realitas. Hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi bukan lagi sekadar polusi digital, melainkan virus epistemik yang menggerogoti fondasi kebangsaan. Dalam kondisi ini, literasi digital bukan lagi sekadar kompetensi, melainkan sebuah senjata etis, sebuah antitesis terhadap keracunan informasi. Pemuda harus berada di garis depan pertarungan makna ini: menjadi content creator yang berkecimpung dalam ruang ide, bukan sekadar pengonsumsi pasif; menjadi algoritma kebaikan yang menyebarkan konten positif, meng-edukasi publik, dan membangun narasi kebangsaan yang inklusif dan beradab.
Yogyakarta, 28 Oktober 2025
Hamengku Buwono X
